suatu saat, buku akan dimakan.

Sabtu, 31 Juli 2010

sastra adalah rasa

sastra adalah rasa. Tak perlu talenta.
Hanya butuh kertas dan pena.
Melukis, adalah menulis. Dan menulis adalah melukis.
Saling melengkapi, saling menyenangi.
Menciptakan dunia melalui jiwa. Menciptakan siluit kehidupan.
Byangan itu kini lebih nyata. Masa depan didepan mata.
Menantang, berpetualang!

Jati diri, harus dicari. Harus diraih.
Hidup mungkin perih, biarkan segalanya mengalir.

Biarkan rasa dan jiwa mengimprovisasi warnanya. Biarkan galaksi menghamburkan bintangnya. Maka biarkan waktu menjalankan tugasnya sebagai air .. mengalir.

suara hati tak kunjung mati

kami tertawa, kami ceria.
satu meringis, semua menangis.
saat satu diantara kami tersandung, kami akan mendukung!
ruang dan waktu terlewati. duka dan lara terobati.

kami remaja, berhati baja.
kami mungkin sesuatu yang biasa, namun kami menari dengan leluasa.
menikmati angin, dan hujan yang dingin.

setiap saat kami bermain, matahari seakan tersenyum pada kami.
bahkan saat hujan mengguyur kami, deru air seakan mengikuti irama langkah kami.
kami percaya pada kasih.
pada setiap jengkal mistery kehidupan kami.
pada setiap detik waktu yang merangkul kami.
pada setiap saat, dan pada segalanya.

SUARA HATI KAMI BERSORAK!
mengumandangkan janji yang abstrak.
hanya hati, hanya diri.

Tuhan ..
kami remaja, berhati baja.
kami mungkin sesuatu yang biasa, namun kami menari dengan leluasa.
kami tau dunia hanya sementara, biarkan kami bersama di surga ..

ceritaku senja ini

tadi, aku sudah memutuskan untuk menyakiti seseorang (lagi)
aku jahat? ya.
namun ini sebuah pilihan. yang untuk saat ini, itu pilihan tetapku.
entah takdir brkata apa, namun ini pilihanku.
sebuah cerita yang sudah aku ramalkan memang benar benar terjadi.
saat orang bertanya,
apa yang kamu pilih? mencintai orang yang kamu cintai, atau belajar mencintai orang yang tulus mencintaimu?
ya, apapun jawabanku, aku yakin suatu saat (mungkin) aku akan berubah fikiran.
namun untuk saat ini, aku memilih untuk mencintai orang yang aku cintai
aku egois? lagi lagi ya.
maaf.
hari ini aku belajar tentang kesetiaan.

tanpa inspirasi aku mati

entah sejak brapa lama yang lalu aku dalam keadaan seperti ini.
Hidup tanpa inspirasi.
Bahkan aku sndri tdak tau bgaimana ini smwa bisa trjadi.
Ku siapkan kertas serta pena.
Aku diam dan menjernihkan fikiran.
Aku mulai menyentuhkan ujung pena pada krtas.
Namun tak sedikitpun tinta yang membekas.
Tak ada sedikitpun kata.
Kupejamkan mata brharap sbuah ilham datang.
Namun sia sia.

Tanpa inspirasi, aku mati.

peka

Aku menangis, mereka tertawa
aku tertawa, mereka diam
aku diam, mereka pergi
aku pergi, mereka lari
lalu aku kembali dan mengulangnya dari awal

i wanna be the one of the winner

hidup di dunia udah jadi sebuah kenikmatan yang secara sdara atau ga sadar, kita ga mau ngelepasinnya. karena kita udah menganggap dunia ini milik kita.
padahal sebenernya dunia hanya sebuah tempat perlombaan.
dalam lomba kita dinilai tentang keimanan, baik buruknya akhlak kita, kerjasama, kesabaran, kemandirian, tanggung jawab, kedewasaan, kekuatan mental dan lainnya.
dalam lomba, panitia memberikan sebuah soal yang harus diselesaikan secara berkelompok maupun perorangan.
dan kalau kita bisa melewati persoalan itu dengan kekuatan akhlak kita, maka kita akan mendapat point yaitu pahala.
sedangkan kalau kita ngelewatin permasalahn itu dengan gegabah, ngga sabar, marah, bahkan sampai ngejelek jelekin kelompok lain atau peserta lain, maka kita bakal dapet nilai minus yaitu dosa.
lalu point plus dan minus di catat oleh panitia yaitu rakib dan atid lalu di akhir setelah perlombaan selesai semua point plus dan minus kita dihitung.
point itulah yang nentuin tinggal dimana kita selanjutnya, entah surga atau neraka.
INI ADALAH SEBUAH ACARA AKBAR!
hebatnya perlombaan hidup benar benar menghipnotis para peserta untuk lupa bahwa suatu saat perlombaan ini akan berahir.
benar benar berahir dan selanjutnya kita akan beristirahat dari perlombaan kita, yaitu di kehidupan abadi kita di akhirat.
dan saya, saya ingin menjalankan perlombaan ini dengan rapi.
saya akan membiarkan Yang Maha Kuasa Ketua Pelenggara melakukan apa yang sepatutnya terjadi pada saya.
Dia membuat saya ada, maka Dia yang membuat saya tidak ada.
Dia yang membuat saya berperasaan, maka saya minta agar Dia selalu menjaga perasaan saya selalu terkontrol dan istiqomah
sedikit nepotisme, saya sering meminta Dia untuk memenangkan saya di prlombaan ini
sekalian biar saya bisa deket sama Ketua Penyelenggara :D
ya, saya harus menang!